GUDANG INFORMASI


DAFTAR ISI




TB Paru 2

Asma Bronkial 11

Pneumonia 14
PPOK 18
Kanker Paru 21
Edema Paru 23
Bronkiektasis 24
Gagal Nafas 25
Bronkitis Akut 26
Empiema 27
Abses Paru 28
Aspirasi Cairan Pleura 29
Pleurodesis 31


CATATAN:

Buku ini hanya penyederhanaan dan penggabungan dari buku Pedoman Paru yang dikeluarkan PDPI, Protap Paru RSUD Ulin dan pedoman dari Global Initiative for Asthma



TB PARU

A. Patogenesis

1. Tuberkulosis Primer

Kuman TB à saluran napas à bersarang di jaringan paru à memebentuk sarang primer afek primer à peradangan saluran getah bening menuju hilus (Iimfangitis lokal) à pembesaran kelenjer getah bening di hilus (Iimfadenitis regional).


Afek primer + Iimfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer .


Kompleks primer ini akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut :

1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali

2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (sarang Ghon, garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus)

3. menyebar dengan cara :

a. Perkontinuitatum (menyebar ke sekitarnya)

b. Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru sebelahnya. Tertelannya dahak bersama ludah. Penyebaran juga terjadi ke dalam usus.

c. Penyebaran secara hematogen dan Iimfogen. Sangat bersangkutan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi basil. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh spontan, akan tetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadan cukup gawat seperti tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa. Penyebaran ini juga dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia dan sebagainya.


2. Tuberkulosis post-primer

Dari tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian tuberkulosis post-primer. Tuberkulosis post primer mempunyai macam-macam nama, tuberkulosis bentuk dewasa, localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk tuberkulosis inilah yang terutama menjadi problem kesehatan rakyat, karena dapat menulari sekitarnya.

Tuberkulosis post-primer dimulai dengan sarang dini, yang umunya terletak di segmen apikal dari lobus superior maupun lobus inferior. Nasib sarang pneumonik ini akan mengikuti salah satu jalan:

  1. Diresorpsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan cacat
  2. Sarang tadi mula-mula meluas, tapi segera terjadi proses penyembuhan dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan membungkus diri menjadi lebih keras, terjadi perkapuran, dan akan sembuh dalam bentuk perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang tersebut menjadi aktif kembali, membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti, bila jaringan keju dibatukkan keluar.
  3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju tadi keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik). Nasib kaviti ini :

a. Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru. Sarang pneumonik ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang sebutkan diatas.

b. Dapat pula memadat dan membungkus diri dan disebut tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh, tapi mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi.

c. Kaviti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti menyembuh dengan membungkus diri, akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus, dan menciut sehingga kelihatan sebagai bintang (stellate shaped).


B. Klasifikasi

1. TB Paru

tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput paru)

1. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA), TB paru dibagi dalam :

a. Tuberkulosis paru BTA (+)

· 2 dari 3 spesimen dahak positif

· Satu spesimen dahak positif + radiologi tuberkulosis aktif.

· Satu spesimen dahak positif + biakan positif

b. Tuberkulosis paru BTA (-)

· dahak 3 kali negative + gambaran klinik dan kelainan radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif + tidak respons antibiotik spektrum luas

· dahak negatif + biakan negatif + gambaran radiologik positif

2. Berdasarkan tipe penderita

a. Kasus baru

belum pernah mendapat OAT atau menelan OAT kurang dari satu bulan

b. Kasus kembuh ( relaps )

pernah mendapat OAT dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif.

c. Kasus pindahan (transfer)

sedang pengobatan di kabupaten lain pindah berobat ke kabupaten ini.

d. Kasus lalai berobat

paling kurang 1 bulan, dan berhenti 2 minggu atau lebih, kemudian datang kembali berobat.

e. Kasus gagal

· penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif pada satu bulan sebelum akhir pengobatan atau lebih

· penderita BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan dan atau gambaran radiologik ulang hasilnya perburukan.

f. Kasus kronik

Adalah penderita dengan hasil pemeriksaan dahak BTA masih positif setelah selesai pengobatan ulang kategoti 2 dengan pengawasan yang baik.

g. Kasus bekas TB

· mikroskopik negatif

· Gejala klinik tidak ada

· Radiologik lesi TB inaktif

· Riwayat pengobatan OAT yang adekuat


2. TB Ekstra Paru

a. TB ekstra paru ringan

Misalnya : TB kelenjer limfe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi dan kelenjer adrenal.

b. TB ekstra paru berat :

Misalnya : meningitis, millier, parikarditis, peritonitis, pleuritis eksudativa bilateral, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing dan alat kelamin.


C. Anamnesis

1. Gejala respiratorik

c. Batuk ≥ 3 minggu

d. Batuk darah

e. Sesak napas

f. Nyeri dada

(TB ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat, misalnya pada limfadentis tuberkulosis akan terjadi pembesaran KGB yang lambat dan tidak nyeri)


2. Gejala sistemik

  1. Demam
  2. Gejala sistemik lain : malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun

D. Pemeriksaan Fisik

Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apex dan segmen posterior, serta daerah apex lobus inferior. à

- suara napas bronkial, amforik,

- suara napas melemah, ronki basah

- tanda-tanda penerikan paru, diafragma & mediastinum.


Pada pleuritis tuberkulosis, kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari banyak cairan di rongga pleura.

- perkusi pekak

- suara napas yang melemah à tidak terdengar pada sisi yang terdapat cairan.


Pada Iimfadenitis tuberkulosis, terlihat pembesaran KGB tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor), kadang-kadang didaerah ketiak. Pemeriksaan kelenjer tersebut dapat menjadi " cold abscess".


E. Pemeriksaan Penunjang

- Pemeriksaan spesimen

1. Bahan pemeriksaan: dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavege/BaL), urin, faeces dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH)

2. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan

Cara pengambilan dahak 3 kali, setiap pagi 3 hari berturut-turut atau dengan cara :

A. Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan)

B. Dahak pagi (keesokan harinya)

C. Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi )

Bahan pemeriksaan / spesimen yang berbentuk cairan dikumpulkan / ditampung dalam po

  • Posted: Thursday, 24 March 2011 13:48:06 GMT
  • In: Uncategorised
  • Permalink : GUDANG INFORMASI
  • Comments: 0
  • Viewed 1447 times.